SEBUAH KEGAGALAN

April 3rd, 2008 by four-seasons

Tiga anak kecil bermain lompat tali. Aturannya sederhana.

Dua anak memegangi tali. Sedang yang seorang berusaha melompatinya.

Bila ia gagal atau tersangkut, ia harus ganti memegangi tali.

Dan, yang lain mengambil giliran melompat. Ketika tali masih rendah, ia mampu melompatinya.

Saat sedikit-demi- sedikit tali meninggi, ketidakyakinan mulai datang.

Keraguan merambah.

Namun, tekad untuk tidak kalah lebih kuat sehingga ia harus mencoba.

Keyakinan diri membara saat ia mampu melompatinya meski ujung kaki menyentuh tali.

Semua anak bertepuk tangan. Namun, ketika tali sejajar pandangan, ia gagal.

Dengan sedikit kecewa ia ganti memegangi tali.

Tahukah anda apa yang ada dalam benak anak kecil itu?

Saat memegangi tali, ia menunggu ada temannya yang gagal sebagaimana ia pernah gagal.

Dan berharap ia bermain lagi agar bisa melompati ketinggian yang gagal ia lalui.

Menjadi pemain selalu menyenangkan karena bisa merasakan keberhasilan.

Namun, hanya bila anda tak kehilangan harapan di sela-sela kegagalan,

anda layak menantikan saat untuk bermain kembali.

Bahkan kita pun harus tahu bagaimana menjadi gagal. Tanpa itu, kita tak tahu bagaimana menjadi menang.

Lucu ajah…

February 24th, 2008 by four-seasons
WHICH JUMP DO YOU PREFER TO ???
Masih pada inget kata2 terakhir yang di film Titanic…. nih aku kasih tau beberapa versi tentang itu
WHICH JUMP DO YOU PREFER TO ???
Versi asli, Titanic Version (Versi setia sampe mati) :
You jump…. I jump!
Versi ngajak-ngajak :
I want to jump…. anybody else want to jump?
Versi pemimpin :
I jump…. all of you jump after me!
Versi pengikut :
We will jump after you jump.
Versi penakut :
You jump…. tell me if it is ok…. then I jump.
Versi ogah-ogahan :
I’ve already jumped last time…. now it is your turn to jump.
Versi iklan :
You should jump because every celebrities and famous people jump.
Versi programmer :
If (you.jump( ) ) then (I.jump( ) )
Versi logika implikasi :
If you jump then I jump that means if you don’t jump I might still jump.
Versi Plinplan :
You jump…. i jump gak yah hmmmmmm I jump deh.
Versi nggak percayaan :
You jump…. are you sure you want to jump? No kidding? Promise?
Versi penjudi :
We’ll throw a coin if it is head I jump…. if it is tail you jump.
Versi Tarzan baru kenalan dengan Jane :
“You Jump, Me Tarzan.”
Versi Forest Gump :
“My name is Jump, Forest Jump.”
Versi 007 :
“My name Bond, Jump’s Bond.”
Versi sinetron Catatan si Boy :
“Kamu sangat ke-jump, Boy!”
Versi waktu :
“Jump sabaraha?”  “Jump 10 kurang lima.”
Versi Buah-buahan :
Jump-bu Monyet, Jump-bu klutuk, jump-bu batu, dan jump-bu – jump-bu lainnya.
Versi Betawi :
Inich Aye Abang………. Jump-ang!
Versi Prostitusi :
mau cari jumpblay di mangga besar banyak om !!!
Versi korban tindak kekerasan :
Tolooonggggggg…………… jump bret!!!!!
Versi dukun santet :
Nich gue kasih jumpe jumpe…. biar selamet dunie akherat!!!
Versi wiraswasta gendong-gendong (tukang jamu gendong) :
Mau jump-u apa mas…. galian singset apa kabel…… ?
Versi pedagang kaki lima :
Di-jump-in tidak luntur… ? Luntur tidak di-jump-in…!! !
Versi Cuek :
You jump, sebodo teiing….. gua kagak bisa berenang….. 
Versi kasmaran :
Hai say….. kagak jump-e elu satu hari aje gue bisa jump-alitan.
Kalo ada yang tau tentang versi2 yang lainnya tambahin yah…..

Ujian ALLAH

February 24th, 2008 by four-seasons
Rasulullah SAW bersabda:
"Sungguh Allah akan menguji kamu dengan berbagai cobaan, sebagaimana kamu menguji (membakar) emas dengan api. Ada orang yang keluar (dari ujian tersebut) seperti emas murni, orang itulah yang dilindungi Allah dari kejelekan; ada juga orang yang keluar seperti emas yang tidak murni, orang itu masih dipenuhi keraguan; dan terakhir ada orang yang keluar seperti emas hitam, orang itulah yang terkena fitnah (siksa)."
(HR Al Hakim dalam al-Mustadrak dan dia menganggapnya shahih no 7878. Hadits ini diriwayatkan juga oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam)
Pernah Anda mengamati begaimana emas dibakar dengan api? Jika menginginkan emas murni 24 karat, Anda harus memanggangnya di atas api yang lebih besar. Diantara manusia itu ada yang keluar (dari ujian) bak emas murni, yaitu emas yang bersih dan bening seketika. Adakah di antara kita orang yang keluar seperti emas murni tersebut? Jika ada, berarti ialah orang yang dilindungi Allah SWT.
Ada lagi orang yang keluar (dari ujian tersebut) dalam keadaan bingung, suatu saat ia memuji Allah dan di lain kesempatan dia kembali kepada kebiasaannya (bermaksiat) . Ada lagi tipe orang yang keluar seperti emas yang hitam pekat yang sudah menjadi arang. Golongan manusia jenis inilah yang terlaknat.
Di hari kiamat setiap kita akan ditanya. Nah, seperti apakah Anda? Termasuk jenis emas manakah Anda? murni, campuran, atau…??
Mungkin kita tidak pernah mengalami musibah seperti yang dialami Nabi Yaqub as. Meskipun Allah sangat menyayanginya, Dia tetap mengujinya. Kalau Allah menguji Anda dengan suatu musibah, janganlah mengatakan, "Sungguh, Allah sedang murka kepadaku." Ya Allah, mengapa Engkau menimpakan ini kepadaku?" Janganlah sekali-kali Anda mengucapkan kata-kata itu, karena sesungguhnya Allah menyayangi Anda. Mungkin Anda mempunyai dosa yang Anda tanggunghingga Anda masuk neraka Jahannam. Allah SWT tidak menginginkan Anda masuk neraka. Allah hendak menyucikan diri Anda dan memasukkan Anda ke dalam surgaNya. Karena itu, Allah menguji Anda dengan musibah. Pada hari kiamat, Allah menginginkan Anda berdiri tegak di hadapanNya. Untuk itu, Allah terlebih dahulu menyucikan diri Anda di dunia ini.
(sumber: romantika Yusuf, Amru Khalid, maghfirah pustaka, 2004)

Matikan Lampu Saat Tidur

February 24th, 2008 by four-seasons
Mematikan lampu ketika tidur malam yang gelap diam-diam berkolaborasi
dengan tubuh. Hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh
menghasilkan Melantonin, salah satu hormon dalam sistem=20 kekebalan yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker
payudara dan kanker prostat.
Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam hari - sekecil apapun
sinarnya menyebabkan produksi hormon melantonin terhenti.
Biolog Joan Roberts menemukan rahasia ini setelah melakukan percobaan
pada hewan.
Ketika hewan diberi cahaya buatan pada malam hari, melantoninnya menurun dan sistem kekebalan tubuhnya melemah.
Rupanya, cahaya lampu - seperti juga TV - menyebabkan hormon menjadi sangat lelah.
Oleh karena itu, selain menghemat energi,dengan mematikan lampu ketika tidur merupakan cara alami untuk meningkatkan kesehatan tubuh

KISAH POHON APEL

September 16th, 2007 by four-seasons

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main

di bawah pohon apel itu setiap hari.

Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,

tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya.

Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu.

Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-! main dengan
pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel.

Wajahnya tampak sedih.

"Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu.

"Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak
lelaki itu.

"Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang…

tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya.

Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. "

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di
pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel sangat senang melihatnya datang.

"Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel.

"Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu.

"Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat
tinggal.

Maukah kau menolongku?"

"Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan
rantingku

untuk membangun rumahmu," kata pohon apel.

Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan
pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak
lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi.

Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

"Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel.

"Aku sedih," kata anak lelaki itu.

"Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan
berlayar.

Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?"

"Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan

menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah ."

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya.

Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

"Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu."

"Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab
anak lelaki itu.

"Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon
apel.

"Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu.

"Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu.

Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,"

kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

"Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki.

"Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. "

"Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik

untuk berbaring dan beristirahat.

Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan
tenang."

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.

Pohon apel itu adalah orang tua kita.

Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.

Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika
kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.

Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan
apa yang bisa mereka berikan

untuk membuat kita bahagia.

Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar
pada pohon itu,

tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan.

Dan,  yang terpenting: cintailah orang tua kita.

Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya;

dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

PERSAHABATAN YANG KHUSNUL KHOTIMAH

September 16th, 2007 by four-seasons

Pernahkah kita coba menghitung berapa jumlah teman yang kita miliki?

Pernahkah pula kita membuat daftar dan menghitung jumlah sahabat yang saat
ini

benar-benar masih layak disebut sebagai sahabat?

Sangat boleh jadi, sebagian dari teman dan sahabat itu sudah tidak kita
ketahui

kabarnya untuk beberapa tahun belakangan. Bahkan, bertegur sapa pun mungkin
tidak

karena kita telah lost contact atau kehilangan kontak dengannya.

Jangankan untuk kabar teman lama, sahabat lama pun bisa saja kita sudah tak
tahu kabar mereka.

Atau, malahan mereka telah menjadi mantan& yang tak ingin lagi kita temui.
Ow!

Istilah teman dan sahabat secara tidak sengaja memang ada pada klasifikasi
masing-masing,

mulai dari teman biasa yang ada secara kebetulan (semisal teman sekolah,
tetangga,

dan sebaginya) pasti sebagian dari mereka ada yang kita akrabi dan ada yang
tidak.

Untuk sahabat, boleh jadi kedekatan karena ada pada ruang dan waktu yang
sama,

boleh jadi pula ada sahabat yang sesahabat-sahabatny a. Sahabat kental akan
menjadi

belahan jiwa yang akan terasa hambar tanpa kehadirannya.

Maka ruang dan waktu pun tak akan cukup membatasi jalinan yang ada.

Diantara tingkatan-tingkatan itu, semuanya ada pada range pertemanan dan
persahabatan.

Apapun klasifikasinya, persahabatan akan selalu ada dalam hidup kita, meski
dengan

orang yang berganti-ganti.

Tengoklah sahabat waktu di SD, biasanya berbeda dengan ketika duduk di
bangku

SMP atau SMA, apalagi di bangku perkuliahan. Sahabat selalu berganti dan
bervariasi.

Lalu, factor apa saja yang biasanya membuat kita dekat satu sama lain?

Karena kita punya kelas yang sama,

punya kegiatan yang sama, punya hobi yang sama, punya idola yang sama, atau,

punya tujuan yang sama. Tak ayal, dari berbagai tujuan itu muncullah
kelompok,

organisasi atau perkumpulan yang kita ikuti karena di situlah ada sinergi.

Ketika kelompok ini mulai berganti, ketika jarak dan waktu tak memungkinkan
lagi

untuk berkumpul, beraktivitas bersama atau sekadar bercengkerama bersama,

masing-masing dari kita pun mulai mengambil jarak dan kelompok-kelompok
baru,sahabat- sahabat baru.

Sahabat yang lama pun mulia jarang bertemu, pun tingkat keakraban serta
merta melonggar.

Gambaran tersebut belum memperhitungkan kemungkinan adanya konflik yang pada

beberapa kasus boleh jadi menjadi sekat dan dendam kesumat yang memisahkan
persahabatan.

Maka, bergantinya sahabat dari masa ke masa telah menjadi sebuah
keniscayaan.

Menilik persahabatan demi persahabatan yang telah kita semai,akhirnya akan

muncul satu penyimpulan bahwa: persahabatan pun ada masanya.

Ada masa ketika kita begitu lekat dan cair, ada masa ketika kita mulai

meninggalkan. Namun, satu yang pasti, bahwa persahabatan tetaplah didasari

oleh sebuah kepentingan.

Bagi saya, persahabatan tanpa pamrih adalah bulshit, sekadar pengelakan

dan upaya untuk menjaga sebuah ketulusan dalam persahabatan.

Ketika kita memulai persahabatan dengan seseorang, baik secara individu

maupun dalam kelompok/ komunitas, kepentingan itu dapat berupa penyaluran
hobi,

keinginan berbagi dan mendapatkan wawasan dan atau pencerahan .

atau, malahan, kepentingan untuk merubah?

Nah, itulah kepentingan! Untuk melebur bersama, seringkali kita coba elak

untuk disebut sebagai kepentingan atau pamrih.

Maka, ketika kepentingan itu mulai tak ada, di situlah persahabatan akan
memudar

bahkan terputus. Kadang kala, perpisahan itu terjadi begitu saja tanpa kita
sempat

(dan menyempatkan diri) untuk berpamit dan menorehkan kenangan perpisahan
secara

manis menjelang perpisahan. Dus, tiba-tiba jarak pun membentang, memunculkan
rasa

sungkan dan canggung ketika bertemu kembali.Kenangan- kenangan masa silam
hanya

menjadi sebuah nostalgia yang hanya sesakali bisa kita lihat dan tengok

di saat-saat tertentu dalam wujud reuni dan sekadar mengenang.

Dan tentu, sangat susah untuk kita kembalikan seperti masa keakraban dulu.

Waktu telah menggeser rasa, rasa persahabatan yang kita cecap.

Disanalah kita diingatkan bahwa kita telah terlambat bersyukur,

betapa nikmatnya sebuah kebersamaan dalam persahabatan.

Akankah persahabatan itu mengalir untuk terlupakan, mengalir untuk dikenang

dalam diam menjelang turunnya lelap di malam hari. Atau, lebih dari itu,

mengalir untuk sesekali kita tengok secara riil lewat sekadar sapaan hallo

dan menanyakan kabar terakhir, saling membantu dan bekerjasama dalam keadaan
yang baru?

Ya, terkadang kita lupa berdoa agar persahabatan pun menjadi khusnul
khotimah,

berakhir dengan baik. Apa pun konfllik yang sedang terjadi, dari masa ke
masa,

kita seringkali lupa untuk menyempatkan berdoa semoga di masa mendatang akan
berakhir dengan baik.

Rasululloh sendiri pernah mengingatkan agar kita jangan terlalu mencintai

sesuatu karena boleh jadi apa yang kita cintai itu akan menjadi kita benci.

Pun sebaliknya, jangan terlalu membenci sesuatu karena boleh jadi apa yang

kita benci akan menjadi kita cintai di kelak kemudian hari.

Apapun itu, doa agar persahabatan, sebaik atau seburuk apapun saat ini,

semoga akan menjadi khusnul khotimah, tetaplah butuh usaha.

Rasululloh pun meneladankan usaha memupuk persahabatan ini,

yakni dengan menjalin tali silaturahmi, saling berkunjung, saling bertegur
sapa.

Baik untuk masa sekarang, baik juga untuk masa mendatang.

Tentu saja, khusnul khotimah, baik pada akhirnya.

Keledai Kebahagiaan

September 4th, 2007 by four-seasons

Suatu hari
keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu
menangis
dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa
yang harus dilakukannya.

Akhirnya, si petani memutuskan bahwa
hewan itu sudah tua dan sumur juga
perlu ditimbun (ditutup karena
berbahaya), jadi tidak berguna untuk
menolong si keledai. Dan ia
mengajak tetangga-tetanggany a untuk datang
membantunya. Mereka
membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.

Pada
mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi,
ia
menangis penuh kengerian . Tetapi kemudian, semua orang takjud,
karena
si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi
dituangkan
ke dalam sumur. Si petani melihat ke dalam sumur dan
tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya
terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran,
si keledai
melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-
guncangkan
badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke
bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga2 si petani
terus menuangkan tanah kotor ke atas
punggung hewan itu, si
keledai terus juga menguncangkan badannya dan
melangkah naik.
Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai
meloncati
tepi sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja
menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam
tanah dan
kotoran. Cara untuk keluar dari "sumur" (kesedihan,
masalah, dsb)
adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran
dari diri kita
(pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari
"sumur" dengan menggunakan
hal-hal tersebut sebagai
pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu
pijakan untuk melangkah.
Kita dapat keluar dari "sumur"
yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah
menyerah!

Ingatlah aturan sederhana tentang
Kebahagiaan
:

1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah
pikiranmu dari kecemasan.
3. Hiduplah sederhana.
4. Berilah
lebih banyak.
5. Berharaplah lebih sedikit.
6. Tersenyumlah.
7.
Miliki teman yang bisa membuat engkau tersenyum

Bicara dengan Bahasa Hati

September 4th, 2007 by four-seasons

Tak ada musuh yang tak dapat
ditaklukkan oleh cinta.

Tak ada penyakit yang tak
dapat disembuhkan oleh kasih sayang.

Tak ada permusuhan yang tak
dapat dimaafkan oleh ketulusan.

Tak ada kesulitan yang tak
dapat dipecahkan oleh ketekunan.

Tak ada batu keras yang tak
dapat dipecahkan oleh kesabaran.

Semua itu haruslah berasal
dari hati anda.

 

Bicaralah dengan bahasa hati,
maka akan sampai ke hati pula.

Kesuksesan bukan semata-mata
betapa keras otot dan betapa tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati
anda dalam menjalani segala sesuatunya.

 

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi
hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat.

Atau, membujuknya dengan
berbagai gula-gula dan kata-kata manis.

Anda harus mendekapnya hingga
ia merasakan detak jantung yang tenang jauh di dalam dada anda.

 

Mulailah dengan melembutkan
hati sebelum memberikannya pada keberhasilan anda.

C0wok Vs C3wek

July 28th, 2007 by four-seasons

Cewek mau nggabung ke mobil yang udah penuh cowok
Kata Cowok2 : ga apa2, ayo sini, kalo dipangku masih cukup kok.

Cowok mao nggabung ke mobil yang udah penuh cewek
Kata Cewek2 : enak aja!!! mau cari kesempatan dalam kesempitan ya?


Cewek mengerjakan pekerjaan cowok (ex : presiden, direktur, polisi)
Kata Cowok2 : emansipasi wanita

Cowok mengerjakan pekerjaan cewek (ex : babysitter, pembantu)

Kata Cewek2 : Di Indonesia cari kerjaan emang susah, jangan terlalu milih2


Cewek diggangguin preman
Kata Cowok2 : Kasian tuh, ayo kita tolongin

Cowok digangguin preman
Kata Cewek2 : Salah sendiri cari urusan ma tu preman


Cewek nuangin minuman buat cowoknya
Kata Cowok2 : Calon istri idaman

Cowok nuangin minuman buat ceweknya
Kata Cewek2 : ISTI ( Ikatan Suami Takut Istri)


Cewek cantik, kaya, baik hati, sudah dewasa, dan masih lajang
Kata Cowok2 : Perfectsionis, sedang menunggu calon suami yang tepat

Cowok cakep, Kaya, Baik hati, sudah dewasa, dan juga masih lajang
Kata Cewek2 : Kalo ga impoten berarti gay


Istriku dandan sampe setengah jam sebelum pergi
Kata Cowok2 : Begitulah cewek, maklum aja..

Suamiku dandan sampe setengah jam sebelum pergi

Kata C ewek2 : jangan2 suamimu selingkuh tuh..


Cewek pake baju cowok
Kata Cowok2 : Tomboi

Cowok pake baju cewek
Kata Cewek2 : Banci, amit-amit deh


Cewek lesbi
Kata Co wok2 : Pasti gara2 dia sering disakitin sama cowok

Cowok Homo
Kata Cewek2 : Pasti gara2 ga ada cewek yang mau


Cewek liat bokep
Kata Cowok2 : namanya aja juga penasaran, wajar..

Cowok liat bokep
Kata Cewek2 : Semua Cowok emang gitu, ga ada yang bener!!


Cewekku ke salon 3 kali seminggu, apa ga kebangetan coba?
Kata Cowok2 : Itu namanya merawat diri, kalo cewekmu cantik kan kamu juga yg senang

Cowokku ke salon 3 kali seminggu, apa ga kebangetan coba?
Kata Cewek2 : Jangan2 salonnya salon plus-plus


Cewekku tu blom puas k alo mandinya blom sampe satu jam
Kata Cowok2 : Kalo ga gitu namanya bukan cewek

Cowok mandi ampe satu jam

Kata cewek2 : Mencurigakan, pasti di dalam dia lg ^&%$%


Cewek pergi ke dokter kulit & kelamin
Kata Cowok2 : pasti lagi konsultasi tentang kulitnya

Cowok pergi ke dokter kulit dan kelamin

Kata Cewek2 : Pasti lagi konsultasi tentang kelaminnya.

3 Pintu Kebijaksanaan

March 2nd, 2007 by four-seasons

Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, trampil dan pintar.

Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa
bijaksana.

“Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku” Sang Pangeran meminta.

“Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir”, ujar Pertapa.

“Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3
pintu.

Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu.

Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan
perjalanannya.

Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata
“UBAHLAH DUNIA”

“Ini memang yang kuinginkan” pikir sang Pangeran.

“Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang
tak kusukai.

Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku”

Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia.

Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia
agar sesuai hasratnya.

Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa
damai.

Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.

“Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?” Tanya sang Pertapa

“Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku

dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang

tidak tergantung padaku” jawab Pangeran

“Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar
kekuatanmu,

apa yang engkau tak sanggup mengubahnya” dan sang Pertapa menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan
“UBAHLAH SESAMAMU”

“Ini memang keinginanku” pikirnya. “Orang-orang di sekitarku adalah sumber
kesenangan,

kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan
frustrasi”

Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya.

Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka.

Ini menjadi pertarungannya yang kedua.

Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.

“Apa yang engkau pelajari kali ini?”

“Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau
kedukaanku,

keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar
hal-hal

tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut
berakar”

“Engkau benar” Kata sang Pertapa. “Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu,

sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.

Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur
pula

pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.

Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu

engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh”

Kembali sang Pertapa menghilang.

Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga “UBAHLAH DIRIMU”

“Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku,

memang disanalah aku harus mengubahnya” . Ia berkata pada dirinya sendiri.

Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya
sendiri,

melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala
hal yg

tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan

sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.

“Kini apa yang engkau pelajari ?”

“Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan

ada yang tidak bisa saya ubah”

“Itu bagus” ujar sang pertapa. “Ya” lanjut Pangeran, “tapi saya mulai lelah

untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri
sendiri.

Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ?

Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini
!”

“Itu adalah pelajaranmu berikutnya” ujar Pertapa. Tapi sebelum itu,

balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh”.

Dan ia pun menghilang.

Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan

melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi “TERIMALAH
DIRIMU”.

Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.

“Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta” katanya pada
dirinya sendiri.

Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan,

kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana

mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya

dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata “Aku belajar, bahwa membenci dan

menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk

tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku
seutuhnya,

secara total dan tanpa syarat.”

“Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan” , ujar Pertapa.

“Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua”

Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya “TERIMALAH
SESAMAMU”

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai,

serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang
melawannya.

Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan
mereka,

kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha
mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, “Aku belajar” ujarnya “Bahwa dengan
berdamai

dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain,

tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima

dan mencintai mereka, apa adanya.

“Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan” ujar sang Pertapa,

“Sekarang pergilah ke Pintu Pertama”

Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan “TERIMALAH DUNIA”

“Sungguh aneh” ujarnya pada dirinya sendiri

“Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya”.

Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang

sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.

Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia.

Dengan kesempurnaannya.

Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau
cara pandangnya?

Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa :

“Apa yang engkau pelajari sekarang ?”

“Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku.

Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam
dunia.

Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan.

Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.

Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat
mengenainya.

Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa
syarat.

“Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan” ujar sang Pertapa.

“Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia”

Sang pertapa pun menghilang.

Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian,

ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.